right_side

Pages

Powered by Calendar Labs
RAHASIA TO NDESS. Diberdayakan oleh Blogger.

TULUNG PAKANI HAMSTERKUU

Blogger news

Minggu, 05/01/2014 00:02 WIB Badai Salju di AS Sudah Tewaskan 16 Orang Ferdinan - detikNews Foto: Reuters New York, - Korban tewas akibat badai salju yang melanda kawasan timur Amerika Serikat bertambah. Tercatat ada 16 orang yang tewas. Gubernur New York dan New Jersey sudah mengumumkan keadaan darurat dan meminta warga untuk tidak berpergian ke luar rumah. "Ini tidak boleh disepelekan. Orang harus serius mempertimbangkan tetap tinggal di rumah," kata Gubernur New York, Andrew Cuomo dilansir Sky News, Sabtu (4/1/2014). Instruksi sama juga disampaikan Chris Christie, Gubernur New Jersey. Para pekerja diminta tetap tinggal di rumah. Sementara kantor pemerintahan termasuk gedung pengadilan ditutup. Akibat badai salju ini, ratusan sekolah ditutup. Sementara ada 1.900 penerbangan telah dibatalkan di AS. Ketebalan salju bahkan ada yang mencapai 60 sentimeter. Selain karena faktor dinginnya udara, korban meninggal juga karena kecelakaan lalu lintas. Tumpukan salju membuat lalu lintas di Michigan, Kentucky, Indiana dan Illinois lumpuh.

Blogroll

follow me

Blogger templates

find me on FACEBOOK

In:

Prospek Peternakan di Masa Depan


KATA PENGANTAR


            Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat serta hidayahNYA, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Pengantar Ilmu dan Industri Ternak dengan judul Prospek bidang Peternakan pada masa depan dengan baik, meskipun masih ada kekurangannya.
Tujuan dari penyusunan makalah dengan judul Prospek bidaang Peternakan pada masa depan ini adalah sebagai syarat dan tugas Ujian Akhir Semester (UAS).
   Penulis ucapkan banyak terima kasih atas terselesaikannya tugas makalah ini kepada Bp. Ir. Warsono Sarengat ,MS yang telah membimbing penulis dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Industri Peternakan.Tanpa ilmu yang telah Bapak berikan penulis tidak dapat mengerjakan makalah ini. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, apabila terdapat beberapa hal yang kurang berkenan Penulis mohon maaf. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bila tanah digunakan untuk menghasilkan pangan manusia, tanaman-tanaman yang dipanen, jagung, padi, kentang, gandum, dan lain-lain, setelah diolah sekedarnya langsung dapat dikonsumsi.
Bila lahan digunakan untuk menumbuhkan tanaman-tanaman yang hanya sesuai untuk memberi makan ternak, ternak tersebut terlebih dahulu harus mengubah makanan itu menjadi daging, susu, dan lain-lain, sebelum diperoleh hasil yang dapat dimakan oleh manusia.
Manusia memerlukan makanan untuk tumbuh, bereproduksi, dan memelihara kesehatan yang baik. Tanpa makanan, tubuh kita tidak dapat menjaga suhu, membangun, atau memperbaiki jaringan. Memakan makanan yang benar dapat menghindarkan kita dari berbagai jenis penyakit atau sembuh lebih cepat ketika penyakit sedang menyerang tubuh kita. Sumberdaya manusia peternakan adalah seluruh sumberdaya manusia yang terkait dengan dunia peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung seperti peternak, pengusaha yang bergerak dibidang peternakan (budidaya, obat-obatan, pakan dan sebagainya), peneliti serta mahasiswa bidang peternakan yang merupakan potensi besar untuk pengembangan peternakan di masa mendatang. Peningkatan kualitas hasil-hasil pembangunan peternakan sangat tergantung kepada kualitas sumberdaya manusianya melalui pendidikan formal dan informal.Peternakan menghasilkan produk yang berasal dari ternak itu sendiri. Misalnya sapi yang bisa menghasilkan daging, susu yang bisa memenuhi kebutuhan protein dalam tubuh. Maka dari itu, prospek peternakan di masa depan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan protein hewan.



B.     Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mempunyai rumusan masalah antara lain sebagai berikut :

1.      Bagaimana potret peternakan di indonesia saat ini??
2.      Bagaimana karakteristik peternakan di indonesia??
3.      Apa kelemahan peternakan di indonesia??
4.       
C.     Tujuan Penulisan Makalah

  Dalam penyusunan makalah ini, penulis mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut :
1.      Untuk menyelesaikan tugas Tiket Masuk UAS mata kuliah  Pengantar Ilmu    dan Industri Peternakan.
2.      Untuk mengetahui potret peternakan di indonesia saat ini
3.      Untuk mengetahui karakteristik peternakan di indonesia
4.      Untuk mengetahui kelemahan peternakan di indonesia





BAB II

ISI



1. POTRET PETERNAKAN SEKARANG


Produk Pangan Asal Ternak, Selera Konsumen dan Peluang Pasar

Daging, susu dan telur adalah produk pangan asal ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi dan mencerdaskan masyarakat, di samping itu juga adalah komoditas ekonomi yang strategis. Daging asal ternak diperoleh dari berbagai sumber yaitu (i) unggas, (ii) ruminansia besar, (iii) ruminansia kecil dan (iv) ternak lain. Sementara itu susu diperoleh dari ruminansia besar dan ruminansia kecil, dan telur diperoleh dari unggas. Daging asal unggas disumbangkan paling banyak oleh ayam broiler dan ayam kampung dan hanya sedikit dari itik dan ayam petelur (ayam jantan dan betina afkir). Total sumbangan daging asal unggas mencapai 60,8 persen dari total daging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia (Ditjenak, 2006). Daging ayam merupakan daging termurah, harga terjangkau oleh masyarakat luas, kualitasnya cukup baik dan tersedia dalam jumlah yang cukup serta penyebarannya yang hampir menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Dalam hal pemenuhan kebutuhan daging unggas maka Indonesia telah mencapai swasembada sejak tahun 1995 lalu. Perlu diingat bahwa permintaan akan daging unggas akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan peningkatan yang cukup signifikan (Tangenjaya dan Djajanegara, 2002). Bagaimana peluang ekspor setelah swasembada dicapai? Saat ini peluang ekspor cukup sulit untuk dilaksanakan karena banyak negara telah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, maka perlu dicari nilai lebih dari produk Indonesia agar mempunyai daya saing yang cukup untuk menembus pasar ekspor (Badan Litbang Pertanian, 2005b; dan Kementerian Negara Ristek-RI, 2006). Hal yang tidak kalah penting juga adalah lebih mengefisienkan proses produksi agar daya saing produk dapat lebih ditingkatkan. Daging asal ruminansia besar paling banyak disumbangkan oleh sapi potong, diikuti oleh kerbau dan sapi perah (sapi jantan dan betina afkir). Total sumbangannya mencapai 24 persen dari total konsumsi daging nasional (Ditjenak, 2006). Secara umum daging tersebut, walaupun berasal dari ketiga jenis ternak yang berbeda, di pasar hanya dikenal sebagai daging sapi. Daging asal ruminansia kecil mempunyai pasar yang sangat spesifik tetapi juga membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Kontribusi daging ruminansia kecil pada konsumsi daging nasional sebesar 6 persen (Ditjenak, 4 Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 1-14 2006). Dalam memenuhi kebutuhan pasar maka Indonesia telah berswasembada. Bagaimana peluang ekspor setelah swasembada dicapai? Untuk daging ruminansia kecil sebenarnya pasar ekspor tersedia yaitu di Timur Tengah dimana daging tersebut merupakan konsumsi harian masyarakat di sana dan untuk kebutuhan Ritual Idul Adha. Mengapa ekspor belum bisa terlaksana dengan baik? Standar ekspor yang diinginkan sulit diperoleh dalam jumlah yang cukup (Badan Litbang Pertanian, 2005a) karena sistem pemeliharaan masih dalam skala kecil dan sangat beragam sedangkan kebutuhan ekspor dalam jumlah yang cukup besar untuk setiap pengiriman maka pengumpulan ternak menjadi kurang ekonomis. Pasar dalam negeri masih kurang kondusif bagi daging kambing/domba karena akan semakin tergeser oleh daging ayam dan sapi, maka pengembangan ternak kambing dan domba sebaiknya berorientasi ekspor melalui perbaikan bibit dan manajemen pemeliharaan. Daging asal ternak lain didominasi oleh Babi (9%) (Ditjenak, 2006), . Produk susu hampir seluruhnya berasal dari sapi perah, dan hanya sedikit kontribusi yang berasal dari kerbau yaitu hanya terdapat di lokasi tertentu saja yang budaya konsumsi susu kerbau. Biasanya juga berlangsung hanya pada even tertentu. Sedangkan konsumsi susu kambing lebih terbatas lagi hanya pada masyarakat yang mempercayai bahwa susu kambing adalah obat berbagai penyakit terutama yang berhubungan dengan penyakit pernapasan dan lambung. Kebutuhan susu sapi dalam negeri baru terpenuhi 24 persen dari kebutuhan total, sehingga masih sangat bergantung pada impor sebesar 76 persen. Walaupun demikian peluang ekspor masih cukup terbuka, hal ini dapat dilihat dari keberhasilan beberapa perusahaan mengekspor produk tersebut dengan jumlah yang cukup menjanjikan yaitu sebesar 32 persen (Ditjenak, 2006). kebutuhan susu sapi dalam negeri akan terus meningkat dari tahun ke tahun akibat adanya kesadaran gizi dan peningkatan pendapatan. Telur, paling banyak dipasok oleh ayam ras petelur dan merupakan sumber protein hewani asal ternak termurah dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Telur dalam jumlah terbatas juga disumbangkan oleh ayam kampung dan itik petelur. Telur ayam kampung lebih banyak berfungsi sebagai obat (campuran jamu) dibandingkan dikonsumsi secara langsung sebagaimana telur yang dihasilkan oleh ayam petelur.



2. Karakteristik Peternakan di Indonesia

2.1 Peternakan Unggas

Peternakan unggas secara garis besar terbagi atas dua macam yaitu peternakan komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak tradisional (non komersial). Hampir semua peternak komersial memelihara ayam ras (broiler dan petelur) dan sebaliknya hampir semua peternak tradisional memelihara ayam kampung. Peternak komersial secara fungsional terbagi atas peternak pembibitan (breeder) sebagai penghasil bibit/benih dan peternak budidaya sebagai penghasil ayam siap potong dan telur konsumsi. Walaupun dalam prakteknya sebagian besar breeder juga berfungsi sebagai peternak budidaya untuk menciptakan pasar oligopoli. Di samping itu hampir semua peternak komersial dari skala kecil (1.000 ekor) sampai sedang (20.000 ekor) sangat bergantung pada bibit/benih dan saprodi dari perusahaan besar baik secara langsung maupun tidak langsung. Pasarnya adalah berhubungan langsung dengan para penampung di pasar-pasar tradisional (pasar becek). Untuk peternak yang menjadi plasma perusahaan besar dalam sistem inti-plasma mempunyai kewajiban untuk menjual pada perusahaan besar (inti) dengan harga pasar, yang sebenarnya harga tersebut sudah terikat dalam sistem oligopoli. Perkembangan ayam ras yang mampu membangun Indonesia untuk mencapai swasembada daging ayam dan telur ayam dengan konsumen yang mencapai hampir seluruh Wilayah Indonesia perlu dicermati dengan baik. Kelembagaan dan jejaring yang terbentuk, telah membangun suatu sistem tersendiri yang disetujui oleh para peternak karena mampu memberikan nilai tambah langsung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah satu nilai lebih dari industri unggas di dalam negeri. Hal-hal yang menunjang perkembangan peternakan unggas adalah (i) tersedia akses untuk mendapatkan bibit/benih dan pakan berkualitas, (ii) obat-obatan, (iii) informasi standar manajemen pemeliharaan, (iv) pasar yang siap tampung setiap produk yang dihasilkan serta (v) besaran usaha yang cukup memberikan keuntungan yang dianggap baik bagi peternak yang melakoninya. Sayangnya pakan untuk unggas masih menjadi problema yang serius karena sebagian besar bahan pakan diperoleh melalui impor dan tercatat pada tahun 2004 besaran impor untuk jagung (988 ribu ton), bungkil kedelai (1,8 juta ton) dan tepung hewani (360 ribu ton) (Ditjenak, 2006). Bahan-bahan tersebut merupakan 6 Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 1-14 bahan utama untuk formulasi pakan unggas. Sehingga untuk menembus pasar impor dan persaingan dengan produk impor dalam pasar global maka harus ada tindak lanjut untuk memenuhi kebutuhan pakan tersebut yang diharapkan dapat lebih murah dari produk impor. Keterbatasan pengembangan dari skala usaha komersial kecil menuju kepada skala usaha komersial yang lebih besar adalah pada faktor modal usaha, akses pada saprodi dan ketersediaan pasar dan bukan pada SDM. Perkembangan ayam kampung mengambil arah yang berbeda dengan ayam ras, peternak pembibit menseleksi ternaknya bukan ditujukan untuk produksi daging dan telur secara optimal sebagaimana pada ayam ras, tetapi lebih ditujukan untuk menghasilkan bibit yang spesifik yang lebih banyak berfungsi sebagai hiburan atau hobi seperti ayam pelung untuk suara merdu, ayam bangkok untuk ayam aduan dan ayam hias karena warna dan keunikannya. Sangat sedikit yang mengarahkan seleksi untuk produksi telur seperti ayam Arab, sehingga sulit bagi ayam kampung untuk bersaing dengan ayam ras dalam menghasilkan jumlah telur dan daging yang banyak. Peternak budidaya pada ayam kampung lebih memfungsikan ayamnya sebagai tabungan yang siap diuangkan setiap saat ketika membutuhkan dana kontan. Para peternak pembibit ayam kampung lebih berfungsi sebagai penjaga plasma nutfah yang andal. Mereka membangun asosiasi pencinta ternak seperti HIPAPI (Himpunan Peternak Ayam Pelung) yang sering mengadakan even-even kejuaraan dan kontes untuk kemerduan suara ternaknya (HIPAPI, 2006).

2.2 Peternakan Ruminansia Besar

Pada peternakan ruminansia besar, para peternak juga terbagi atas peternak komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak tradisional. Peternak komersial (yang memelihara > 1.000 ekor/peternak per tahun) terdiri atas peternak penggemukan (feeder) dan peternak pembibitan (breeder). Para peternak penggemukan umumnya mendapatkan ternak sapi bakalan melalui impor berupa sapi jantan/betina Brahman cross dan hanya sedikit peternak komersial tersebut yang menggunakan sapi bakalan dalam negeri, terutama karena alasan nilai ekonomis. Dari pengalaman pada peternakan penggemukan inilah, akhir-akhir ini berkembang peternakan sumber bibit (sebenarnya sumber bakalan). Peternak breeder murni belum ada di sini, yang ada adalah peternak komersial yang memanfaatkan sapi-sapi betina produktif ex-impor untuk menghasilkan keturunan (Badan Litbang Pertanian, 2005c). Sapi-sapi betina tersebut diseleksi dengan seksama akan sifat-sifat reproduksinya, kemudian diinseminasi dan dijual sebagai ternak betina bunting. Sapi-sapi betina tersebut diminati oleh banyak Pemda untuk dikembangkan dan digunakan untuk menambah populasi sapi potong di
wilayahnya masing-masing. Pasar kedua produk tersebut, baik sapi penggemukan maupun sapi bunting adalah pasar yang sangat prospektif. Pertanyaannya adalah mungkinkah model usaha perbibitan seperti ini dapat dikembangkan pada sapi lokal ? Peternak tradisional juga mempunyai peran yang hampir sama, tetapi dalam skala usaha yang sangat berbeda. Peternak penggemukan lebih dikenal sebagai peternak sapi kereman karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong cukup lama yaitu lebih dari 6 bulan. Sementara itu peternak penghasil sapi bakalan lebih tepat disebut sebagai peternak budidaya karena praktek seleksi untuk peningkatan produktivitas belum ada dan memang tidak tepat untuk dilaksanakan karena skala pemilikan yang kecil (1–5 ekor/peternak). Sistem peternakan yang dikembangkan dalam berbagai model pengembangan, yang akhir-akhir ini lebih berkembang adalah sistem kandang komunal dalam suatu kawasan peternakan di mana para peternak yang berdekatan membangun kandang berkapasitas > 50 ekor induk sapi dalam suatu areal dan semua peternak mengandangkan ternaknya di sana (Talib, 2007). Keuntungannya adalah pelayanan akan lebih mudah dan efisien termasuk servis perkawinan dan obatobatan. Ada berbagai model yang dikembangkan tetapi semuanya dengan karakteristik masing-masing. Kelemahan mendasar tetap ada yaitu petani belum mampu meningkatkan jumlah pemilikan karena keterbatasan SDM dalam keluarga, sehingga jika sapi mencapai jumlah yang melebihi kemampuan maka jumlahnya harus dikurangi. Disinilah sumber sapi bakalan potensial yang dapat dijaring atau dikembangkan dengan pemberian tambahan sumber daya permodalan melalui perbankan. Para peternak mengenal sapi-sapi yang dianggap unggul berdasarkan pengalaman menurut tanda-tanda kualitatif. Untuk sapi dan kerbau yang ditujukan untuk kebutuhan entertainment dan ritual maka pemahaman keunggulan adalah berdasarkan pada warisan pengetahuan tradisional yang kadangkala berlawanan dengan kebutuhan untuk produksi daging. Misalnya, untuk Tedong Bonga (kerbau di Tanah Toraja) yang penting adalah corak belang hitam putih yang memenuhi syarat, jika tidak memenuhi syarat walaupun bagus perdagingannya mempunyai harga jual yang lebih murah. Contoh lainnya adalah sapi Madura dimana yang dipentingkan adalah kemampuan menarik beban dan kecepatan berlari yaitu tulang besar dan kerampingan otot. Praktek yang diterapkan para peternak tradisional pada sapi dan kerbau miliknya adalah untuk produksi daging, maka ternak jantan yang paling cepat tumbuh akan paling cepat juga masuk ke pasar konsumen untuk menjadi ternak konsumsi. Tentunya ternak tersebut adalah ternak jantan terbaik yang dimilikinya, sedangkan ternak betina yang dipelihara/dipertahankan adalah ternak-ternak yang diyakini akan dapat dengan mudah menjadi bunting dan melahirkan serta mempunyai kemampuan merawat anaknya dengan baik. Oleh karenanya masuknya program IB menggunakan semen sapi impor membuat peternak memiliki jalan pintas untuk mempercepat pertumbuhan ternak yang dihasilkan dan merupakan jalan pintas yang disukai yaitu melalui persilangan dengan sapi Eropa (Bos taurus). Berdasarkan pengalaman mereka maka sapi F1 yang terbaik adalah 8 Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 1-14 jika disilangkan dengan Simmental atau Limousin (Badan Litbang Pertanian, 2005c). Keterbatasan pengembangan usaha dari peternak dengan skala usaha kecil tradisional menuju kepada skala usaha yang lebih besar adalah pada akses mendapatkan saprodi dan pada keterbatasan SDM keluarga yang dimiliki. Dengan demikian jika jumlah sapi yang dimiliki petani tersebut meningkat maka harus ada ternak sapinya yang dikeluarkan. Umumnya pengeluaran ternak dimulai dari sapi jantan yang paling cepat tumbuh mencapai bobot potong, kemudian sapi betina dengan jarak kelahiran yang paling panjang dan berikutnya (sapi-sapi betina inilah yang dikenal sebagai ”pemotongan ternak betina produktif”). Dengan pemahaman seperti ini maka jelas aturan pelarangan pemotongan sapi betina produktif tidak cukup jika hanya berupa peraturan, tetapi harus menyediakan jalan keluar terbaik bagi peternak agar peraturan tersebut dapat berjalan efektif. Pada peternakan sapi perah, hampir semua peternak berorientasi pada keuntungan. Pada perusahaan peternakan besar (> 200 ekor) biasanya mempunyai usaha dari hulu sampai hilir, sedangkan pada peternak kecil (3–10 ekor/peternak) umumnya bergabung dalam wadah Koperasi Peternak Susu (KPS). KPS menyediakan saprodi (pakan konsentrat, pelayanan keswan dan pelayanan reproduksi seperti IB dan pemeriksaan kebuntingan) dan menampung semua hasil susu yang diproduksi anggotanya. KPS kemudian menjual susu yang dikumpulkan dalam bentuk susu segar langsung ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Karena ketergantungan pasar sebagai satu-satunya pembeli yang bisa diharapkan, maka dalam penentuan harga peran IPS sangat dominan. Umumnya harga susu yang dibeli IPS relatif rendah jika dibandingkan dengan biaya produksi susu. Pasokan bibit sapi perah untuk peternak KPS berasal dari pasar, baik berupa sapi dara siap kawin maupun sapi dara bunting. Sapi-sapi ini diusahakan oleh sekelompok peternak ”rearing” yang lebih dikenal sebagai ”bengkel sapi”. Para peternak tersebut membesarkan pedet-pedet betina ataupun mengembalikan kondisi pedet-pedet pasca-sapih sampai siap kawin ataupun bunting. Di sinipun sifat-sifat kualitatif dari sapi-sapi betina yang diyakini akan berproduksi tinggi sangat berperan dalam menentukan harga jual. Para peternak ini juga melakukan rearing pada pedet jantan untuk mempercepat pencapaian bobot potong. Pada peternakan besar, sapi bibit diperoleh melalui impor atau membeli pada peternakan besar lainnya, mereka hampir tidak pernah menjaring sapi bibit dari peternakan tradisional atau pasar lokal dengan alasan utamanya adalah kesehatan. Peternakan sapi perah khusus pembibit (breeder) belum ada, sehingga untuk sementara pemerintah berkewajiban menyediakan bibit/benih untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas sapi-sapi perah yang ada. Dalam hal ini pemerintah menyediakan BIB Singosari dan BIB Lembang yang bersifat nasional dan BIB-Daerah yang banyak tumbuh akhir-akhir ini. Ternyata dalam
perkembangannya balai-balai inseminasi tersebut mampu menyediakan bibit/benih sapi potong dan sapi perah dalam jumlah yang cukup sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.

2.3 Peternakan Ruminansia Kecil

Pada peternakan ruminansia kecil, pola pemeliharaan hampir serupa dengan pemeliharaan pada sapi potong dan kerbau yaitu pada peternak tradisional. Peternak komersial seperti pada peternakan sapi belum ada, yang banyak berperan adalah para pedagang pengumpul ketika kebutuhan untuk pasokan Hari Raya Idhul Adha semakin mendesak. Para pedagang ini mencari kambing dan domba dari berbagai daerah sumber bibit/bakalan. Pada peternak pembibit, seleksi yang dilakukan lebih ditujukan untuk tujuan hiburan seperti pada Domba Garut adalah untuk menghasilkan domba aduan yang unggul, dan para peternak juga membentuk asosiasi peternak domba garut. Seleksi untuk menghasilkan daging yang banyak belum ada di peternak, walaupun ketika menjual ternak yang tidak layak untuk aduan adalah melihat taksiran bobot badan. Pada peternak ruminansia kecil belum ada koperasi yang mewadahi, baik untuk ternak potong maupun untuk ternak perah (kambing perah). Demikian pula pengembangan peternakan secara perorangan ke arah komersial masih kurang didukung oleh pasar lokal yang ada. Keterbatasan pengembangan dari skala usaha kecil tradisional menuju kepada skala usaha yang lebih besar adalah akses pada saprodi, SDM keluarga yang dimiliki dan pasar.
  

3. KELEMAHAN PETERNAKAN DI INDONESIA

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal yang merupakan kelemahan pada sistem peternakan di Indonesia, untuk dijadikan titik awal perubahan struktur peternakan berdasarkan komoditas dengan model usaha serta kelembagaan yang diharapkan potensial untuk dibentuk.

3.1. Peternakan Unggas (baca: Ayam Ras)

Kelemahan sistem peternakan unggas adalah (a) besarnya jumlah pakan yang harus diimpor baik sebagai sumber energi maupun untuk sumber protein yaitu jagung, bungkil kedelai dan tepung hewani. Kebutuhan ketiga bahan tersebut dengan populasi yang ada sekarang sekitar 3 juta ton. (b) Dapatkah kebutuhan tersebut yang merupakan pasar bahan baku pakan dipenuhi dari dalam negeri sendiri dengan catatan yang dapat meningkatkan efisiensi produksi produk unggas? (c) Ayam kampung yang merupakan sumber uang kontan bagi masyarakat pedesaan belum diketahui ke arah mana pengembangannya? Apakah
untuk entertainment ataukan untuk produksi?

3.2. Peternakan Ruminansia Besar

Kelemahan pada ruminansia besar antara lain adalah: (a) Untuk sapi potong, kelemahannya adalah ketergantungan pada supply sapi bakalan dan daging dalam jumlah besar (+ setara 600 ribu ekor per tahun) dan selalu meningkat dari tahun ketahun (PPSKI, 2007), (b) Untuk sapi perah, ketergantungan terhadap susu impor dalam jumlah besar yang juga selalu meningkat dari tahun ketahun, (c) peternakan sapi potong untuk sumber bibit/bakalan sapi impor jumlahnya masih sangat terbatas, sedangkan untuk sapi perah dan sapi lokal belum ada. Dampaknya, pengadaan bakalan sapi potong maupun calon induk sapi perah dari dalam negeri dalam jumlah besar menjadi tidak ekonomis karena harus berasal dari berbagai tempat yang membutuhkan biaya cukup besar. Dalam hal ini, pengadaan sapi impor menjadi lebih ekonomis, (d) akses modal melalui perbankan untuk pengembangan peternakan komersial penggemukan maupun perbibitan skala kecil (10–50 ekor per periode 2–4 bulan) cukup sulit untuk diperoleh, (e) keterbatasan SDM yang dalam hal ini adalah tenaga kerja dalam keluarga sebagai pencari pakan hijauan yang membatasi jumlah pemilikan ternak. Akibatnya peternak sulit sekali untuk meningkatkan jumlah ternak yang dimiliki sehingga sapi-sapi betina usia produktif terpaksa harus menjadi ternak konsumsi. Jalan keluarnya adalah memudahkan akses permodalan bagi peternak untuk pengadaan pakan lengkap yang terjangkau oleh peternak dan penggunaannya dalam proses produksi memberikan keuntungan yang cukup sehingga peternak terpacu untuk meningkatkan skala usaha mereka.

3.3. Peternakan Ruminansia Kecil

Melihat trend konsumsi yang ada maka konsumsi daging kambing dan domba dalam negeri hanya berlangsung dengan lonjakan sporadis hanya dibutuhkan dalam waktu-waktu tertentu saja, sedangkan konsumsi harian akan terus terdesak oleh daging sapi dan daging ayam. Dengan demikian, kalaupun mau ditingkatkan maka yang harus dikembangkan adalah peternakan skala komersial untuk membidik pasar impor.



BAB III

PENUTUP

1.Simpulan
           
Daging, susu dan telur adalah produk pangan asal ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi dan mencerdaskan masyarakat dan untuk memenuhi protein hewani pada manusia. Karakteristik peternakan di indonesia ada 3 yaitu Peternakan Unggas, Peternakan Ruminansia Besar, Peternakan Ruminansia Kecil.  Kelemahan peternakan di indonesia adalah Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal yang merupakan kelemahan pada sistem peternakan di Indonesia, untuk dijadikan titik awal perubahan struktur peternakan berdasarkan komoditas dengan model usaha serta kelembagaan yang diharapkan potensial untuk dibentuk. Jadi kita sebagai penerus bangsa perlu mengembangkan peternakan di Indonesia yang masih banyak kelemahan, prospek peternakan di masa depan akan sangat menjanjikan karena manusia selalu membutuhkan protein hewani untuk memenuhi gizinya.

          
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2005a. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kambing Domba. Badan Litbang Pertanian Deptan
Badan Litbang Pertanian. 2005b. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas. Badan Litbang Pertanian Deptan.
Badan Litbang Pertanian. 2005c. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Sapi. Badan Litbang Pertanian Deptan.
Ditjenak (Direktorat Jenderal Peternakan). 2006. Statistik Peternakan Tahun 2005. Ditjenak, Jakarta.
HIPAPI. 2006. Ayam Pelung. Himpunan Peternak Ayam Pelung, Bandung.
Ilham, N. 2006. Analisa sosial ekonomi dalam rangka pencapaian swasembada daging 2010. Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan”.
Kementerian Negara Ristek-RI. 2006. Buku Putih : Penelitian Pengembangan dan Penerapan IPTEK Bidang Pangan Tahun 2005 – 2025. Kementerian Negara Ristek-RI, Jakarta.
PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia). 2007. Kesiapan Peternak dan Industri Peternakan dalam Pelaksanaan PKD (Program Kecukupan Daging) 2010.
Paper disampaikan dalam Pertemuan ”Sumbangan ISPI pada PKD 2010”, Januari 2007”. Sekretaris Ditjenak, Jakarta. Unpublished.
Talib, C. 2006. Langkah strategis untuk pencapaian swasembada daging sapi pada tahun 2010. Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan daging 2010”, Juli 2006, Bogor. Direktorat Ruminansia, Ditjenak, Jakarta. Unpublished.
Talib.C. 2007. Model Pengembangan Kawasan Agribinis Sapi Potong. Paper dipresentasikan dalam workshop ”Pembangunan Agribisnis Sapi Potong dalam menunjang PKD (Program Kecukupan Daging) 2010”.Bogor, Januari 2007. Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.
Tangenjaya, B. dan A. Djajanegara. 2002. Peternakan Indonesia tahun 2020: Suatu Visi.

Agriculture and Rural Development Strategy Study, ADB – 3843.

In:

PEMANFAATAN TANIN AMPAS TEH DALAM PROTEKSI PROTEIN BUNGKIL BIJI JARAK TERHADAP KONSENTRASI AMONIA, UNDEGRADED DIETARY PROTEIN DAN PROTEIN TOTAL SECARA IN VITRO

PEMANFAATAN TANIN AMPAS TEH DALAM PROTEKSI PROTEIN BUNGKIL BIJI JARAK TERHADAP KONSENTRASI AMONIA, UNDEGRADED DIETARY PROTEIN DAN PROTEIN TOTAL SECARA IN VITRO
(Utilization of Tannin from Tea Waste in Jatropha Meal Protein Protection on Concentration of Ammonia, Undegraded Dietary Protein and Total Protein In Vitro)
A.  N. Rochman, Surono dan A. Subrata
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang



PENDAHULUAN

Pakan ruminansia yang berkualitas sangat tergantung pada tingkat ketersediaan protein pakan yang mampu memberikan kontribusi pada perkembangbiakan mikrobia secara maksimal dalam rumen dan mampu mensuplai protein pakan di intestinum. Protein sangat dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah relatif besar, terutama bagi ternak yang sedang dalam masa awal pertumbuhan, awal menyusui dan bunting akhir. Apabila protein bahan pakan berkualitas tinggi dan dalam jumlah yang banyak, keberadaan mikrobia dalam rumen justru merugikan, karena dalam merombak protein menjadi amonia tidak mengenal batas, walaupun amonia yang dihasilkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan guna mensintesis protein tubuhnya.
Pemilihan sumber protein bagi ruminansia harus berdasarkan 3 hal yaitu :
1). Protein harus mampu menghasilkan N-amonia untuk mikrobia rumen sehingga biosintesis mikrobia optimal
2). Mampu menghasilkan protein tidak terdegradasi rumen yang tinggi
3). Mampu menghasilkan protein total yang berasal dari protein mikrobia dan UDP dalam jumlah banyak dan mutu yang tinggi
Salah satu alternatif dalam pemenuhan kebutuhan protein tersebut adalah dengan pemanfaatan bungkil biji jarak. Bungkil biji jarak mengandung protein kasar (PK) 18,40%; lemak kasar (LK) 20,62%; serat kasar (SK) 32,81%; air 12,63 %; abu 8,67%; dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) 19,5%. Kecernaan bahan organik (KCBO) bungkil  biji jarak cukup tinggi 78-80%,  sedangkan nitrogen yang dapat dipecah dalam rumen selama 24 jam yaitu 70-75%. Kadar protein kasar yang tinggi dengan tingkat degradasi yang tinggi pada bungkil biji jarak  menyebabkan perlu adanya proteksi protein, yaitu dengan pemanasan atau penambahan formaldehida yang dapat meningkatkan fraksi protein tidak terdegradasi 50  -  80% dan tidak menurunkan kecernaannya di intestinum.
Proteksi protein juga dapat menggunakan senyawa tanin. Tanin merupakan senyawa yang dapat digunakan untuk melindungi protein dari degradasi mikrobia rumen, karena tanin mampu mengikat protein dengan membentuk senyawa kompleks yang resisten terhadap protease. Salah satu sumber tanin yaitu ampas teh, yang merupakan tanin yang terkondensasi dan dapat menurunkan degradabilitas protein di dalam rumen. Menurut penelitian Suhartati (2005), tanin merupakan agensia protektor yang paling baik untuk mendapatkan UDP yang tinggi.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini mengkaji upaya proteksi  bungkil biji jarak  dengan  tanin ampas teh  yang diekstraksi dengan berbagai level yaitu 0%, 0,25%, 0,5%, dan 0,75% terhadap bungkil biji jarak sebagai sumber protein, dengan tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan bahan pakan sumber protein terproteksi untuk meningkatkan produktivitas ternak dilihat dari pengukuran  konsentrasi  amonia (NH3), Undegraded  Dietary  Protein  (UDP)  dan Protein Total.
Metode proteksi bahan pakan dengan tanin yaitu mencampurkan kistal tanin dengan aquades di dalam spreyer dengan aras tanin 0%, 0,25%, 0,5% dan 0,75% kemudian menyemprotkan ke  dalam bahan pakan yang sudah dihaluskan sampai tercampur secara homogen kemudian dikering udarakan. Penelitian dilaksanakan dengan  tiga tahap, yaitu :
1.      Tahap ekstraksi tanin
2.      Tahap proteksi bungkil biji jarak
3.      Melakukan uji fermentabilitas bungkil biji jarak yang telah diproteksi dengan tanin secara  in vitro
Pada uji fermentabilitas yang dianalisis dan peubah yang diukur adalah konsentrasi NH3, persentase UDP dan produksi protein total.  Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Sebagai perlakuan adalah T0 (bungkil biji jarak  tanpa tanin), T1 (bungkil biji jarak +  0,25% tanin), T2 (bungkil biji jarak +  0,5% tanin), T3 (bungkil biji jarak +  0,75% tanin).


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa  bungkil biji jarak yang diproteksi dengan peningkatan aras tanin dapat menurunkan konsentrasi NH3 dan meningkatkan persentase UDP (P<0,05) serta meningkatkan produksi protein total (P>0,05).
·         Rata-rata konsentrasi  NH3 
Pada T0 adalah 5,87 mM, T1 adalah 5,49 mM, T2 adalah 5,40 mM dan T3 adalah 4,90 mM.
Hasil konsentrasi amonia pada penelitian masih dalam kisaran yang normal sehingga masih memungkinkan untuk pertumbuhan mikrobia secara maksimal. Sutardi et al. (1983) menyatakan bahwa pertumbuhan maksimal mikrobia membutuhkan konsentrasi amonia sebesar 3,57  –  7,14 mM.
·         Persentase UDP
Pada T0 adalah 38,20%, T1 adalah 40,70%, T2 adalah 40,84 % dan T3 adalah 42,20 %.
Persentase UDP pada bungkil biji jarak terproteksi mencapai 38 sampai 42,2%, hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1978) yang menyatakan bahwa protein yang lolos dari degradasi rumen berkisar antara 20 sampai 80% tergantung pada daya larutnya dalam cairan rumen, laju lewatnya pakan, hewan inang dan kondisi mikrobial.
·         Produksi protein total
Pada T0 adalah 211,57 mg/g, T1 adalah 225,92 mg/g, T2 adalah 277,73 mg/g, T3 adalah 300,32 mg/g.
Hasil produksi protein total yang semakin tinggi seiring penambahan aras tanin ampas  teh mengindikasikan bahwa semakin tinggi tanin semakin banyak protein yang terproteksi, sehingga dapat melindungi protein terhadap degradasi mikroba rumen dengan tidak mengganggu proses pencernaan enzimatis pada saluran-saluran pencernaan. Menurut Rahmadi  et al. (2010) tingginya produksi protein total dapat dipengaruhi oleh konsentrasi amonia dan protein yang lolos dari degradasi rumen.



SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa proteksi bungkil biji jarak menggunakan tanin ampas teh dengan aras 0,75% terbukti mampu menurunkan konsentrasi amonia (NH3), meningkatkan persentase UDP, dan produksi protein total. Pemanfaatan bungkil biji jarak sebagai suplemen protein pakan ruminansia dapat dimaksimumkan, cara efisien yang dapat dilakukan adalah memproteksi bungkil biji jarak menggunakan tanin ampas teh. 

In:

APLIKASI TEKNIK ENKAPSULASI PADA BENIH SENGON


APLIKASI TEKNIK ENKAPSULASI PADA BENIH SENGON



Salah satu penyebab pemanasan global adalah kerusakan hutan akibat bencana alam seperti kebakaran maupun pembalakan liar oleh manusia. Penghijauan kembali hutan gundul harus menjadi prioritas utama dalam menanggulangi hal tersebut. Upaya penghijauan tidak selalu dapat dilakukan secara konvensional, yaitu dengan penanaman secara langsung di lapangan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah penyebaran benih dari udara (aeroseeding). Aeroseeding memerlukan benih yang mampu bertahan setelah benih jatuh di lokasi sasaran sampai dengan kondisi yang kondusif untuk berkecambah serta tetap mempunyai viabilitas yang tinggi. Salah satu teknik yang dapat di gunakan untuk hal tersebut adalah teknik enkapsulasi. Enkapsulasi benih bertujuan untuk membekali benih dengan hara sehingga mampu bertahan sampai kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh (berkecambah).
Pada penelitian ini akan dilakukan optimasi campuran bahan-bahan yang dapat terurai (biodegradable) sebagai bahan enkapsulat. Benih yang dienkapsulasi adalah biji tanaman hutan yang cepat tumbuh seperti sengon (Paraserianthes falcataria). Sengon termasuk jenis tanaman yang diprioritaskan untuk konservasi dan pengelolaan sumber daya genetik hutan di Indonesia.[4] Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bahan enkapsulat yang sesuai untuk jenis tanaman kehutanan dalam hal ini sengon, mengetahui viablitasnya melalui perkecambahan serta mengamati aspek fisiologisnya. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah mendukung program reboisasi dalam hal penyediaan benih yang tepat lokasi dan sasaran terutama di daerah yang mempunyai kendala geografi s dan topografis sehingga tidak mungkin dilakukan secara langsung di lokasi sasaran.


BAHAN DAN METODE



Benih sengon dari daerah bogor, cianjur, tasikmalaya, dan jawa barat.
Prosedur kerja enkapsulasi yaitu :

1.      Tepung tapioka dilarutkan dalam air sampai mengental
2.      Tambahkan bahan-bahan enkapsulat ke dalam larutan tepung tapioka
3.      Benih sengon di lapisi secara manual dengan larutan no.2
4.      Keringkan ditempat terbuka
5.      Simpan dalam kemasan kedap udara


Uji perkecambahan benih sengon tanpa dienkapsulasi (kontrol)
Perkecambahan dilakukan di atas kertas (UDK)[5] di dalam ruangan yang bersuhu 28–30ÂșCdengan empat pengulangan, masing-masing terdiri dari 25 benih. Setiap pengulangan menggunakan plot seluas 1m2 yang mengandung 100 benih. Penentuan kecambah normal adalah berdasarkan tunas yang muncul dari perkembangan daun sesuai dengan standar ISTA[6]. Daya perkecambahan dihitung berdasarkan jumlah rataan benih berkecambah pada setiap plot.




Uji perkecambahan benih yang dienkapsulasi
Benih yang telah dienkapsulasi dikeringanginkan dan disimpan selama satu tahun pada kemasan yang kedap udara. Proses pengecambahan dilakukan pada media pasir steril. Penggunaan media pasir bertujuan untuk mengetahui pengaruh enkapsulat terhadap pertumbuhan tanaman dengan asumsi bahwa media pasir tidak atau sedikit mengandung hara. Selain itu, pasir mempunyai porositas yang baik untuk pertumbuhan akar. Sementara itu, perkecambahan dilakukan pula di dalam growth chamber (Seedburo) pada suhu 28–30ÂșC. Perkecambahan ditentukan oleh dua parameter, yaitu persen dan laju perkecambahannya. Persen perkecambahan adalah jumlah kecambah yang dihasilkan di dalam kurun waktu tertentu sedangkan laju perkecambahan adalah jumlah hari yang dibutuhkan untuk mencapai persen perkecambahan.[7] Kecambah yang tumbuh menjadi planlet dihitung tinggi, jumlah daun majemuk, dan akarnya ditransfer ke polibag meng gunakan media yang sama untuk pengamatan pertumbuhan selanjutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penimbangan bobot menunjukkan bahwa benih hasil koleksi dari daerah Tasikmalaya mempunyai bobot tertinggi (24,05g/1000 benih) dan kadar air tertinggi (9,49%), sedangkan bobot terendah (22,80g/1000 benih) dan kadar air terendah (7,23%) diperoleh dari benih asal Cianjur. Perbedaan kadar air benih dapat disebabkan oleh cara pemrosesan benih, baik pada waktu pengeringan maupun ekstraksi. Benih yang mempunyai bobot yang lebih berat akan menghasilkan kecambah yang lebih tegar daripada yang mempunyai bobot ringan.

Benih tanpa proses enkapsulasi (kontrol)
Hasil pengujian daya perkecambahan benih sengon sebelum dienkapsulasi menunjukkan bahwa daya perkecambahan benih yang distratifi kasi sebelum dikecambahkan lebih tinggi daripada yang tidak distratifikasi. Secara umum benih sengon yang dikecambahkan pada tanah berumput lebih tinggi daripada yang berpasir. Daya perkecambahan benih sengon yang dikoleksi dari Cianjur lebih tinggi dari Bogor dan Tasikmalaya kecuali pada tanah yang berpasir. Dalam hubungan tersebut diduga bahwa yang menyebabkan daya perkecambahan benih sengon asal Cianjur yang lebih tinggi ada lah kualitas genetiknya yang lebih baik dibandingkan dengan kedua tempat sumber benih lainnya karena perbandingan benih antarprove nans biasanya tidak selalu dapat dipercaya.





Benih yang dienkapsulasi

Gambar 3
Media perkecambahan
Stratifikasi
Non-stratifikasi
Bogor
Cianjur
Tasikmalaya
Bogor
Cianjur
Tasikmalaya
Kertas ti su (T)
76.7 b
97.3 a
88.7 a
22.3 e
19.0 e
12.0 ef
Berumput (Gr)
44.0 d
61.7 c
56.7 c
4.3 f
1.3 f
2.3 f
Berpasir (Sd)
42.3 d
39.0 d
40.7 d
3.7 f
1.0 f
2.7 f
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf berbeda menunjukkan perbedaan nyata (5%) menurut DMRT

Kompos sebagai suatu komponen enkapsulat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mengandung hara yang diperlukan oleh tanaman. Sebaliknya, dedak dapat merangsang kontaminasi benih oleh cendawan atau jasad renik karena dedak menyediakan zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jasad renik. Untuk mengatasi hal ini pada penelitian selanjutnya perlu ditambahkan fungisida nabati ke dalam bahan enkapsulat.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa benih yang distratifi kasi sebelum dienkapsulasi mengalami imbibisi sehingga merusak dinding kapsul dan berkecambah lebih awal. Di samping itu, bila proses perkecambahan dilakukan dalam growth chamber, benih tidak mampu ber kecambah meskipun kapsul telah pecah (Gambar 3). Gejala ini menunjukkan bahwa benih yang telah dienkapsulasi tidak dapat dianggap sebagai suatu benih utuh sehingga memerlukan penanganan yang berbeda dari benih yang tidak dienkapsulasi.