Posted by
Unknown
In:
APLIKASI TEKNIK ENKAPSULASI PADA BENIH SENGON
APLIKASI
TEKNIK ENKAPSULASI PADA BENIH SENGON
Salah satu penyebab pemanasan global adalah
kerusakan hutan akibat bencana alam seperti kebakaran maupun pembalakan liar
oleh manusia. Penghijauan kembali hutan gundul harus menjadi prioritas utama
dalam menanggulangi hal tersebut. Upaya penghijauan tidak selalu dapat
dilakukan secara konvensional, yaitu dengan penanaman secara langsung di
lapangan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah penyebaran benih dari
udara (aeroseeding). Aeroseeding memerlukan benih yang mampu
bertahan setelah benih jatuh di lokasi sasaran sampai dengan kondisi yang
kondusif untuk berkecambah serta tetap mempunyai viabilitas yang tinggi. Salah
satu teknik yang dapat di gunakan untuk hal tersebut adalah teknik enkapsulasi.
Enkapsulasi benih bertujuan untuk membekali benih dengan hara sehingga mampu
bertahan sampai kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh (berkecambah).
Pada penelitian ini akan dilakukan optimasi campuran
bahan-bahan yang dapat terurai (biodegradable) sebagai bahan enkapsulat.
Benih yang dienkapsulasi adalah biji tanaman hutan yang cepat tumbuh seperti
sengon (Paraserianthes falcataria). Sengon termasuk jenis tanaman yang
diprioritaskan untuk konservasi dan pengelolaan sumber daya genetik
hutan di Indonesia.[4] Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi bahan enkapsulat yang sesuai untuk jenis tanaman
kehutanan dalam hal ini sengon, mengetahui viablitasnya melalui
perkecambahan serta mengamati aspek fisiologisnya. Tujuan jangka
panjang penelitian ini adalah mendukung program reboisasi dalam hal
penyediaan benih yang tepat lokasi dan sasaran terutama di daerah yang
mempunyai kendala geografi s dan topografis sehingga tidak mungkin dilakukan
secara langsung di lokasi sasaran.
BAHAN DAN METODE
Benih sengon dari daerah bogor, cianjur,
tasikmalaya, dan jawa barat.
Prosedur
kerja enkapsulasi yaitu :
1. Tepung
tapioka dilarutkan dalam air sampai mengental
2. Tambahkan
bahan-bahan enkapsulat ke dalam larutan tepung tapioka
3. Benih
sengon di lapisi secara manual dengan larutan no.2
4. Keringkan
ditempat terbuka
5. Simpan
dalam kemasan kedap udara
Uji
perkecambahan benih sengon tanpa dienkapsulasi (kontrol)
Perkecambahan dilakukan di atas kertas (UDK)[5] di
dalam ruangan yang bersuhu 28–30ÂșCdengan empat pengulangan, masing-masing terdiri
dari 25 benih. Setiap pengulangan menggunakan plot seluas 1m2 yang
mengandung 100 benih. Penentuan kecambah normal adalah berdasarkan tunas yang muncul
dari perkembangan daun sesuai dengan standar ISTA[6]. Daya perkecambahan
dihitung berdasarkan jumlah rataan benih berkecambah pada setiap plot.
Uji
perkecambahan benih yang dienkapsulasi
Benih yang telah dienkapsulasi dikeringanginkan dan
disimpan selama satu tahun pada kemasan yang kedap udara. Proses pengecambahan
dilakukan pada media pasir steril. Penggunaan media pasir bertujuan untuk
mengetahui pengaruh enkapsulat terhadap pertumbuhan tanaman dengan asumsi bahwa
media pasir tidak atau sedikit mengandung hara. Selain itu, pasir mempunyai
porositas yang baik untuk pertumbuhan akar. Sementara itu, perkecambahan
dilakukan pula di dalam growth chamber (Seedburo) pada suhu
28–30ÂșC. Perkecambahan ditentukan oleh dua parameter, yaitu persen dan laju
perkecambahannya. Persen perkecambahan adalah jumlah kecambah yang dihasilkan
di dalam kurun waktu tertentu sedangkan laju perkecambahan adalah jumlah hari yang
dibutuhkan untuk mencapai persen perkecambahan.[7] Kecambah yang tumbuh menjadi
planlet dihitung tinggi, jumlah daun majemuk, dan akarnya ditransfer ke polibag
meng gunakan media yang sama untuk pengamatan pertumbuhan selanjutnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penimbangan bobot menunjukkan bahwa benih
hasil koleksi dari daerah Tasikmalaya mempunyai bobot tertinggi (24,05g/1000
benih) dan kadar air tertinggi (9,49%), sedangkan bobot terendah (22,80g/1000
benih) dan kadar air terendah (7,23%) diperoleh dari benih asal Cianjur.
Perbedaan kadar air benih dapat disebabkan oleh cara pemrosesan benih, baik
pada waktu pengeringan maupun ekstraksi. Benih yang mempunyai bobot yang lebih
berat akan menghasilkan kecambah yang lebih tegar daripada yang mempunyai bobot
ringan.
Benih tanpa
proses enkapsulasi (kontrol)
Hasil pengujian daya perkecambahan benih sengon
sebelum dienkapsulasi menunjukkan bahwa daya perkecambahan benih yang
distratifi kasi sebelum dikecambahkan lebih tinggi daripada yang tidak
distratifikasi. Secara umum benih sengon yang dikecambahkan pada tanah berumput
lebih tinggi daripada yang berpasir. Daya perkecambahan benih sengon yang
dikoleksi dari Cianjur lebih tinggi dari Bogor dan Tasikmalaya kecuali pada
tanah yang berpasir. Dalam hubungan tersebut diduga bahwa yang menyebabkan daya
perkecambahan benih sengon asal Cianjur yang lebih tinggi ada lah kualitas
genetiknya yang lebih baik dibandingkan dengan kedua tempat sumber benih
lainnya karena perbandingan benih antarprove nans biasanya tidak selalu dapat
dipercaya.
Benih
yang dienkapsulasi
Gambar 3
|
Media
perkecambahan
|
Stratifikasi
|
Non-stratifikasi
|
||||
|
Bogor
|
Cianjur
|
Tasikmalaya
|
Bogor
|
Cianjur
|
Tasikmalaya
|
|
|
Kertas
ti su (T)
|
76.7
b
|
97.3
a
|
88.7
a
|
22.3
e
|
19.0
e
|
12.0
ef
|
|
Berumput
(Gr)
|
44.0
d
|
61.7
c
|
56.7
c
|
4.3
f
|
1.3
f
|
2.3
f
|
|
Berpasir
(Sd)
|
42.3
d
|
39.0
d
|
40.7
d
|
3.7
f
|
1.0
f
|
2.7
f
|
Keterangan:
Angka yang diikuti dengan huruf berbeda menunjukkan perbedaan nyata (5%)
menurut DMRT
Kompos sebagai suatu komponen enkapsulat dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mengandung hara yang diperlukan oleh
tanaman. Sebaliknya, dedak dapat merangsang kontaminasi benih oleh cendawan
atau jasad renik karena dedak menyediakan zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
jasad renik. Untuk mengatasi hal ini pada penelitian selanjutnya perlu
ditambahkan fungisida nabati ke dalam bahan enkapsulat.
Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa benih yang distratifi kasi sebelum dienkapsulasi
mengalami imbibisi sehingga merusak dinding kapsul dan berkecambah lebih awal.
Di samping itu, bila proses perkecambahan dilakukan dalam growth chamber,
benih tidak mampu ber kecambah meskipun kapsul telah pecah (Gambar 3). Gejala
ini menunjukkan bahwa benih yang telah dienkapsulasi tidak dapat dianggap
sebagai suatu benih utuh sehingga memerlukan penanganan yang berbeda dari benih
yang tidak dienkapsulasi.
This entry was posted on 09.29
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Posted on
-
0 Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)











0 komentar:
Posting Komentar