Posted by
Unknown
In:
Prospek Peternakan di Masa Depan
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat serta
hidayahNYA, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Pengantar
Ilmu dan Industri Ternak dengan judul Prospek bidang Peternakan pada masa depan dengan baik, meskipun masih ada
kekurangannya.
Tujuan dari penyusunan makalah
dengan judul Prospek bidaang Peternakan pada masa depan ini adalah sebagai
syarat dan tugas Ujian Akhir Semester (UAS).
Penulis ucapkan banyak terima kasih
atas terselesaikannya tugas makalah ini kepada Bp. Ir. Warsono Sarengat ,MS yang telah membimbing penulis dalam mata kuliah
Pengantar Ilmu Industri Peternakan.Tanpa ilmu yang telah Bapak berikan penulis
tidak dapat mengerjakan makalah ini. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki, apabila terdapat beberapa hal yang kurang
berkenan Penulis mohon maaf. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan makalah ini.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bila
tanah digunakan untuk menghasilkan pangan manusia, tanaman-tanaman yang
dipanen, jagung, padi, kentang, gandum, dan lain-lain, setelah diolah
sekedarnya langsung dapat dikonsumsi.
Bila
lahan digunakan untuk menumbuhkan tanaman-tanaman yang hanya sesuai untuk
memberi makan ternak, ternak tersebut terlebih dahulu harus mengubah makanan
itu menjadi daging, susu, dan lain-lain, sebelum diperoleh hasil yang dapat
dimakan oleh manusia.
Manusia
memerlukan makanan untuk tumbuh, bereproduksi, dan memelihara kesehatan yang
baik. Tanpa makanan, tubuh kita tidak dapat menjaga suhu, membangun, atau
memperbaiki jaringan. Memakan makanan yang benar dapat menghindarkan kita dari
berbagai jenis penyakit atau sembuh lebih cepat ketika penyakit sedang
menyerang tubuh kita. Sumberdaya
manusia peternakan adalah seluruh sumberdaya manusia yang terkait dengan dunia
peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung seperti peternak,
pengusaha yang bergerak dibidang peternakan (budidaya, obat-obatan, pakan dan
sebagainya), peneliti serta mahasiswa bidang peternakan yang merupakan potensi
besar untuk pengembangan peternakan di masa mendatang. Peningkatan kualitas
hasil-hasil pembangunan peternakan sangat tergantung kepada kualitas sumberdaya
manusianya melalui pendidikan formal dan informal.Peternakan
menghasilkan produk yang berasal dari ternak itu sendiri. Misalnya sapi yang
bisa menghasilkan daging, susu yang bisa memenuhi kebutuhan protein dalam
tubuh. Maka dari itu, prospek peternakan di masa depan sangat dibutuhkan oleh
manusia untuk memenuhi kebutuhan protein hewan.
B.
Rumusan
Masalah
Dalam penyusunan makalah
ini, penulis mempunyai rumusan
masalah antara lain sebagai
berikut :
1. Bagaimana
potret peternakan di indonesia saat ini??
2. Bagaimana
karakteristik peternakan di indonesia??
3. Apa
kelemahan peternakan di indonesia??
4.
C.
Tujuan
Penulisan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini, penulis
mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut :
1. Untuk menyelesaikan tugas Tiket Masuk UAS mata kuliah Pengantar Ilmu dan Industri Peternakan.
2. Untuk mengetahui potret peternakan di indonesia saat
ini
3. Untuk mengetahui karakteristik peternakan di indonesia
4. Untuk mengetahui kelemahan peternakan di indonesia
BAB
II
ISI
1.
POTRET PETERNAKAN SEKARANG
Produk
Pangan Asal Ternak, Selera Konsumen dan Peluang Pasar
Daging, susu dan telur adalah produk pangan asal
ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi dan mencerdaskan masyarakat, di
samping itu juga adalah komoditas ekonomi yang strategis. Daging asal ternak
diperoleh dari berbagai sumber yaitu (i) unggas, (ii) ruminansia besar, (iii)
ruminansia kecil dan (iv) ternak lain. Sementara itu susu diperoleh dari
ruminansia besar dan ruminansia kecil, dan telur diperoleh dari unggas. Daging
asal unggas disumbangkan paling banyak oleh ayam broiler dan ayam kampung dan
hanya sedikit dari itik dan ayam petelur (ayam jantan dan betina afkir). Total
sumbangan daging asal unggas mencapai 60,8 persen dari total daging yang
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia (Ditjenak, 2006). Daging ayam merupakan
daging termurah, harga terjangkau oleh masyarakat luas, kualitasnya cukup baik
dan tersedia dalam jumlah yang cukup serta penyebarannya yang hampir menjangkau
seluruh wilayah Indonesia. Dalam hal pemenuhan kebutuhan daging unggas maka
Indonesia telah mencapai swasembada sejak tahun 1995 lalu. Perlu diingat bahwa
permintaan akan daging unggas akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan
peningkatan yang cukup signifikan (Tangenjaya dan Djajanegara, 2002). Bagaimana
peluang ekspor setelah swasembada dicapai? Saat ini peluang ekspor cukup sulit
untuk dilaksanakan karena banyak negara telah mampu memenuhi kebutuhannya
sendiri, maka perlu dicari nilai lebih dari produk Indonesia agar mempunyai
daya saing yang cukup untuk menembus pasar ekspor (Badan Litbang Pertanian,
2005b; dan Kementerian Negara Ristek-RI, 2006). Hal yang tidak kalah penting
juga adalah lebih mengefisienkan proses produksi agar daya saing produk dapat
lebih ditingkatkan. Daging asal ruminansia besar paling banyak disumbangkan
oleh sapi potong, diikuti oleh kerbau dan sapi perah (sapi jantan dan betina
afkir). Total sumbangannya mencapai 24 persen dari total konsumsi daging
nasional (Ditjenak, 2006). Secara umum daging tersebut, walaupun berasal dari
ketiga jenis ternak yang berbeda, di pasar hanya dikenal sebagai daging sapi.
Daging asal ruminansia kecil mempunyai pasar yang sangat spesifik tetapi juga
membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Kontribusi daging ruminansia
kecil pada konsumsi daging nasional sebesar 6 persen (Ditjenak, 4 Analisis
Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 1-14 2006). Dalam memenuhi
kebutuhan pasar maka Indonesia telah berswasembada. Bagaimana peluang ekspor
setelah swasembada dicapai? Untuk daging ruminansia kecil sebenarnya pasar
ekspor tersedia yaitu di Timur Tengah dimana daging tersebut merupakan konsumsi
harian masyarakat di sana dan untuk kebutuhan Ritual Idul Adha. Mengapa ekspor
belum bisa terlaksana dengan baik? Standar ekspor yang diinginkan sulit
diperoleh dalam jumlah yang cukup (Badan Litbang Pertanian, 2005a) karena
sistem pemeliharaan masih dalam skala kecil dan sangat beragam sedangkan
kebutuhan ekspor dalam jumlah yang cukup besar untuk setiap pengiriman maka pengumpulan
ternak menjadi kurang ekonomis. Pasar dalam negeri masih kurang kondusif bagi
daging kambing/domba karena akan semakin tergeser oleh daging ayam dan sapi,
maka pengembangan ternak kambing dan domba sebaiknya berorientasi ekspor
melalui perbaikan bibit dan manajemen pemeliharaan. Daging asal ternak lain
didominasi oleh Babi (9%) (Ditjenak, 2006), . Produk susu hampir seluruhnya
berasal dari sapi perah, dan hanya sedikit kontribusi yang berasal dari kerbau
yaitu hanya terdapat di lokasi tertentu saja yang budaya konsumsi susu kerbau.
Biasanya juga berlangsung hanya pada even tertentu. Sedangkan konsumsi susu
kambing lebih terbatas lagi hanya pada masyarakat yang mempercayai bahwa susu
kambing adalah obat berbagai penyakit terutama yang berhubungan dengan penyakit
pernapasan dan lambung. Kebutuhan susu sapi dalam negeri baru terpenuhi 24
persen dari kebutuhan total, sehingga masih sangat bergantung pada impor
sebesar 76 persen. Walaupun demikian peluang ekspor masih cukup terbuka, hal
ini dapat dilihat dari keberhasilan beberapa perusahaan mengekspor produk
tersebut dengan jumlah yang cukup menjanjikan yaitu sebesar 32 persen
(Ditjenak, 2006). kebutuhan susu sapi dalam negeri akan terus meningkat dari
tahun ke tahun akibat adanya kesadaran gizi dan peningkatan pendapatan. Telur,
paling banyak dipasok oleh ayam ras petelur dan merupakan sumber protein hewani
asal ternak termurah dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas.
Telur dalam jumlah terbatas juga disumbangkan oleh ayam kampung dan itik
petelur. Telur ayam kampung lebih banyak berfungsi sebagai obat (campuran jamu)
dibandingkan dikonsumsi secara langsung sebagaimana telur yang dihasilkan oleh
ayam petelur.
2.
Karakteristik Peternakan di Indonesia
2.1
Peternakan Unggas
Peternakan unggas secara garis besar terbagi atas
dua macam yaitu peternakan komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak
tradisional (non komersial). Hampir semua peternak komersial memelihara ayam
ras (broiler dan petelur) dan sebaliknya hampir semua peternak tradisional memelihara
ayam kampung. Peternak komersial secara fungsional terbagi atas peternak
pembibitan (breeder) sebagai penghasil bibit/benih dan peternak budidaya
sebagai penghasil ayam siap potong dan telur konsumsi. Walaupun dalam
prakteknya sebagian besar breeder juga berfungsi sebagai peternak budidaya
untuk menciptakan pasar oligopoli. Di samping itu hampir semua peternak
komersial dari skala kecil (1.000 ekor) sampai sedang (20.000 ekor) sangat
bergantung pada bibit/benih dan saprodi dari perusahaan besar baik secara
langsung maupun tidak langsung. Pasarnya adalah berhubungan langsung dengan
para penampung di pasar-pasar tradisional (pasar becek). Untuk peternak yang
menjadi plasma perusahaan besar dalam sistem inti-plasma mempunyai kewajiban
untuk menjual pada perusahaan besar (inti) dengan harga pasar, yang sebenarnya
harga tersebut sudah terikat dalam sistem oligopoli. Perkembangan ayam ras yang
mampu membangun Indonesia untuk mencapai swasembada daging ayam dan telur ayam
dengan konsumen yang mencapai hampir seluruh Wilayah Indonesia perlu dicermati
dengan baik. Kelembagaan dan jejaring yang terbentuk, telah membangun suatu
sistem tersendiri yang disetujui oleh para peternak karena mampu memberikan
nilai tambah langsung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah
satu nilai lebih dari industri unggas di dalam negeri. Hal-hal yang menunjang perkembangan
peternakan unggas adalah (i) tersedia akses untuk mendapatkan bibit/benih dan
pakan berkualitas, (ii) obat-obatan, (iii) informasi standar manajemen
pemeliharaan, (iv) pasar yang siap tampung setiap produk yang dihasilkan serta
(v) besaran usaha yang cukup memberikan keuntungan yang dianggap baik bagi
peternak yang melakoninya. Sayangnya pakan untuk unggas masih menjadi problema
yang serius karena sebagian besar bahan pakan diperoleh melalui impor dan
tercatat pada tahun 2004 besaran impor untuk jagung (988 ribu ton), bungkil
kedelai (1,8 juta ton) dan tepung hewani (360 ribu ton) (Ditjenak, 2006).
Bahan-bahan tersebut merupakan 6 Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1,
Maret 2007 : 1-14 bahan utama untuk formulasi pakan unggas. Sehingga untuk
menembus pasar impor dan persaingan dengan produk impor dalam pasar global maka
harus ada tindak lanjut untuk memenuhi kebutuhan pakan tersebut yang diharapkan
dapat lebih murah dari produk impor. Keterbatasan pengembangan dari skala usaha
komersial kecil menuju kepada skala usaha komersial yang lebih besar adalah
pada faktor modal usaha, akses pada saprodi dan ketersediaan pasar dan bukan
pada SDM. Perkembangan ayam kampung mengambil arah yang berbeda dengan ayam ras,
peternak pembibit menseleksi ternaknya bukan ditujukan untuk produksi daging
dan telur secara optimal sebagaimana pada ayam ras, tetapi lebih ditujukan untuk
menghasilkan bibit yang spesifik yang lebih banyak berfungsi sebagai hiburan
atau hobi seperti ayam pelung untuk suara merdu, ayam bangkok untuk ayam aduan
dan ayam hias karena warna dan keunikannya. Sangat sedikit yang mengarahkan
seleksi untuk produksi telur seperti ayam Arab, sehingga sulit bagi ayam
kampung untuk bersaing dengan ayam ras dalam menghasilkan jumlah telur dan
daging yang banyak. Peternak budidaya pada ayam kampung lebih memfungsikan
ayamnya sebagai tabungan yang siap diuangkan setiap saat ketika membutuhkan
dana kontan. Para peternak pembibit ayam kampung lebih berfungsi sebagai
penjaga plasma nutfah yang andal. Mereka membangun asosiasi pencinta ternak
seperti HIPAPI (Himpunan Peternak Ayam Pelung) yang sering mengadakan even-even
kejuaraan dan kontes untuk kemerduan suara ternaknya (HIPAPI, 2006).
2.2
Peternakan Ruminansia Besar
Pada peternakan ruminansia besar, para peternak juga
terbagi atas peternak komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak
tradisional. Peternak komersial (yang memelihara > 1.000 ekor/peternak per
tahun) terdiri atas peternak penggemukan (feeder) dan peternak
pembibitan (breeder). Para peternak penggemukan umumnya mendapatkan
ternak sapi bakalan melalui impor berupa sapi jantan/betina Brahman cross dan
hanya sedikit peternak komersial tersebut yang menggunakan sapi bakalan dalam
negeri, terutama karena alasan nilai ekonomis. Dari pengalaman pada peternakan
penggemukan inilah, akhir-akhir ini berkembang peternakan sumber bibit
(sebenarnya sumber bakalan). Peternak breeder murni belum ada di sini,
yang ada adalah peternak komersial yang memanfaatkan sapi-sapi betina produktif
ex-impor untuk menghasilkan keturunan (Badan Litbang Pertanian, 2005c).
Sapi-sapi betina tersebut diseleksi dengan seksama akan sifat-sifat
reproduksinya, kemudian diinseminasi dan dijual sebagai ternak betina bunting.
Sapi-sapi betina tersebut diminati oleh banyak Pemda untuk dikembangkan dan
digunakan untuk menambah populasi sapi potong di
wilayahnya
masing-masing. Pasar kedua produk tersebut, baik sapi penggemukan maupun sapi
bunting adalah pasar yang sangat prospektif. Pertanyaannya adalah mungkinkah
model usaha perbibitan seperti ini dapat dikembangkan pada sapi lokal ? Peternak
tradisional juga mempunyai peran yang hampir sama, tetapi dalam skala usaha
yang sangat berbeda. Peternak penggemukan lebih dikenal sebagai peternak sapi
kereman karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong cukup lama
yaitu lebih dari 6 bulan. Sementara itu peternak penghasil sapi bakalan lebih
tepat disebut sebagai peternak budidaya karena praktek seleksi untuk
peningkatan produktivitas belum ada dan memang tidak tepat untuk dilaksanakan
karena skala pemilikan yang kecil (1–5 ekor/peternak). Sistem peternakan yang
dikembangkan dalam berbagai model pengembangan, yang akhir-akhir ini lebih
berkembang adalah sistem kandang komunal dalam suatu kawasan peternakan di mana
para peternak yang berdekatan membangun kandang berkapasitas > 50 ekor induk
sapi dalam suatu areal dan semua peternak mengandangkan ternaknya di sana
(Talib, 2007). Keuntungannya adalah pelayanan akan lebih mudah dan efisien
termasuk servis perkawinan dan obatobatan. Ada berbagai model yang dikembangkan
tetapi semuanya dengan karakteristik masing-masing. Kelemahan mendasar tetap
ada yaitu petani belum mampu meningkatkan jumlah pemilikan karena keterbatasan
SDM dalam keluarga, sehingga jika sapi mencapai jumlah yang melebihi kemampuan
maka jumlahnya harus dikurangi. Disinilah sumber sapi bakalan potensial yang
dapat dijaring atau dikembangkan dengan pemberian tambahan sumber daya permodalan
melalui perbankan. Para peternak mengenal sapi-sapi yang dianggap unggul
berdasarkan pengalaman menurut tanda-tanda kualitatif. Untuk sapi dan kerbau
yang ditujukan untuk kebutuhan entertainment dan ritual maka pemahaman
keunggulan adalah berdasarkan pada warisan pengetahuan tradisional yang
kadangkala berlawanan dengan kebutuhan untuk produksi daging. Misalnya, untuk
Tedong Bonga (kerbau di Tanah Toraja) yang penting adalah corak belang hitam
putih yang memenuhi syarat, jika tidak memenuhi syarat walaupun bagus
perdagingannya mempunyai harga jual yang lebih murah. Contoh lainnya adalah
sapi Madura dimana yang dipentingkan adalah kemampuan menarik beban dan
kecepatan berlari yaitu tulang besar dan kerampingan otot. Praktek yang diterapkan
para peternak tradisional pada sapi dan kerbau miliknya adalah untuk produksi
daging, maka ternak jantan yang paling cepat tumbuh akan paling cepat juga
masuk ke pasar konsumen untuk menjadi ternak konsumsi. Tentunya ternak tersebut
adalah ternak jantan terbaik yang dimilikinya, sedangkan ternak betina yang
dipelihara/dipertahankan adalah ternak-ternak yang diyakini akan dapat dengan
mudah menjadi bunting dan melahirkan serta mempunyai kemampuan merawat anaknya
dengan baik. Oleh karenanya masuknya program IB menggunakan semen sapi impor
membuat peternak memiliki jalan pintas untuk mempercepat pertumbuhan ternak
yang dihasilkan dan merupakan jalan pintas yang disukai yaitu melalui
persilangan dengan sapi Eropa (Bos taurus). Berdasarkan pengalaman mereka
maka sapi F1 yang terbaik adalah 8 Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No.
1, Maret 2007 : 1-14 jika disilangkan dengan Simmental atau Limousin (Badan
Litbang Pertanian, 2005c). Keterbatasan pengembangan usaha dari peternak dengan
skala usaha kecil tradisional menuju kepada skala usaha yang lebih besar adalah
pada akses mendapatkan saprodi dan pada keterbatasan SDM keluarga yang
dimiliki. Dengan demikian jika jumlah sapi yang dimiliki petani tersebut
meningkat maka harus ada ternak sapinya yang dikeluarkan. Umumnya pengeluaran
ternak dimulai dari sapi jantan yang paling cepat tumbuh mencapai bobot potong,
kemudian sapi betina dengan jarak kelahiran yang paling panjang dan berikutnya
(sapi-sapi betina inilah yang dikenal sebagai ”pemotongan ternak betina
produktif”). Dengan pemahaman seperti ini maka jelas aturan pelarangan
pemotongan sapi betina produktif tidak cukup jika hanya berupa peraturan,
tetapi harus menyediakan jalan keluar terbaik bagi peternak agar peraturan
tersebut dapat berjalan efektif. Pada peternakan sapi perah, hampir semua
peternak berorientasi pada keuntungan. Pada perusahaan peternakan besar (>
200 ekor) biasanya mempunyai usaha dari hulu sampai hilir, sedangkan pada
peternak kecil (3–10 ekor/peternak) umumnya bergabung dalam wadah Koperasi
Peternak Susu (KPS). KPS menyediakan saprodi (pakan konsentrat, pelayanan
keswan dan pelayanan reproduksi seperti IB dan pemeriksaan kebuntingan) dan
menampung semua hasil susu yang diproduksi anggotanya. KPS kemudian menjual
susu yang dikumpulkan dalam bentuk susu segar langsung ke Industri Pengolahan
Susu (IPS). Karena ketergantungan pasar sebagai satu-satunya pembeli yang bisa
diharapkan, maka dalam penentuan harga peran IPS sangat dominan. Umumnya harga
susu yang dibeli IPS relatif rendah jika dibandingkan dengan biaya produksi
susu. Pasokan bibit sapi perah untuk peternak KPS berasal dari pasar, baik
berupa sapi dara siap kawin maupun sapi dara bunting. Sapi-sapi ini diusahakan
oleh sekelompok peternak ”rearing” yang lebih dikenal sebagai ”bengkel
sapi”. Para peternak tersebut membesarkan pedet-pedet betina ataupun
mengembalikan kondisi pedet-pedet pasca-sapih sampai siap kawin ataupun
bunting. Di sinipun sifat-sifat kualitatif dari sapi-sapi betina yang diyakini
akan berproduksi tinggi sangat berperan dalam menentukan harga jual. Para
peternak ini juga melakukan rearing pada pedet jantan untuk mempercepat
pencapaian bobot potong. Pada peternakan besar, sapi bibit diperoleh melalui
impor atau membeli pada peternakan besar lainnya, mereka hampir tidak pernah
menjaring sapi bibit dari peternakan tradisional atau pasar lokal dengan alasan
utamanya adalah kesehatan. Peternakan sapi perah khusus pembibit (breeder)
belum ada, sehingga untuk sementara pemerintah berkewajiban menyediakan
bibit/benih untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas sapi-sapi perah
yang ada. Dalam hal ini pemerintah menyediakan BIB Singosari dan BIB Lembang
yang bersifat nasional dan BIB-Daerah yang banyak tumbuh akhir-akhir ini.
Ternyata dalam
perkembangannya
balai-balai inseminasi tersebut mampu menyediakan bibit/benih sapi potong dan
sapi perah dalam jumlah yang cukup sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.
2.3
Peternakan Ruminansia Kecil
Pada peternakan ruminansia kecil, pola pemeliharaan
hampir serupa dengan pemeliharaan pada sapi potong dan kerbau yaitu pada
peternak tradisional. Peternak komersial seperti pada peternakan sapi belum
ada, yang banyak berperan adalah para pedagang pengumpul ketika kebutuhan untuk
pasokan Hari Raya Idhul Adha semakin mendesak. Para pedagang ini mencari
kambing dan domba dari berbagai daerah sumber bibit/bakalan. Pada peternak
pembibit, seleksi yang dilakukan lebih ditujukan untuk tujuan hiburan seperti
pada Domba Garut adalah untuk menghasilkan domba aduan yang unggul, dan para peternak
juga membentuk asosiasi peternak domba garut. Seleksi untuk menghasilkan daging
yang banyak belum ada di peternak, walaupun ketika menjual ternak yang tidak
layak untuk aduan adalah melihat taksiran bobot badan. Pada peternak ruminansia
kecil belum ada koperasi yang mewadahi, baik untuk ternak potong maupun untuk
ternak perah (kambing perah). Demikian pula pengembangan peternakan secara
perorangan ke arah komersial masih kurang didukung oleh pasar lokal yang ada.
Keterbatasan pengembangan dari skala usaha kecil tradisional menuju kepada
skala usaha yang lebih besar adalah akses pada saprodi, SDM keluarga yang
dimiliki dan pasar.
3.
KELEMAHAN PETERNAKAN DI INDONESIA
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal yang
merupakan kelemahan pada sistem peternakan di Indonesia, untuk dijadikan titik
awal perubahan struktur peternakan berdasarkan komoditas dengan model usaha
serta kelembagaan yang diharapkan potensial untuk dibentuk.
3.1.
Peternakan Unggas (baca: Ayam Ras)
Kelemahan sistem peternakan unggas adalah (a)
besarnya jumlah pakan yang harus diimpor baik sebagai sumber energi maupun
untuk sumber protein yaitu jagung, bungkil kedelai dan tepung hewani. Kebutuhan
ketiga bahan tersebut dengan populasi yang ada sekarang sekitar 3 juta ton. (b)
Dapatkah kebutuhan tersebut yang merupakan pasar bahan baku pakan dipenuhi dari
dalam negeri sendiri dengan catatan yang dapat meningkatkan efisiensi produksi
produk unggas? (c) Ayam kampung yang merupakan sumber uang kontan bagi masyarakat
pedesaan belum diketahui ke arah mana pengembangannya? Apakah
untuk
entertainment ataukan untuk produksi?
3.2.
Peternakan Ruminansia Besar
Kelemahan pada ruminansia besar antara lain adalah:
(a) Untuk sapi potong, kelemahannya adalah ketergantungan pada supply sapi
bakalan dan daging dalam jumlah besar (+ setara 600 ribu ekor per tahun) dan
selalu meningkat dari tahun ketahun (PPSKI, 2007), (b) Untuk sapi perah,
ketergantungan terhadap susu impor dalam jumlah besar yang juga selalu
meningkat dari tahun ketahun, (c) peternakan sapi potong untuk sumber
bibit/bakalan sapi impor jumlahnya masih sangat terbatas, sedangkan untuk sapi
perah dan sapi lokal belum ada. Dampaknya, pengadaan bakalan sapi potong maupun
calon induk sapi perah dari dalam negeri dalam jumlah besar menjadi tidak
ekonomis karena harus berasal dari berbagai tempat yang membutuhkan biaya cukup
besar. Dalam hal ini, pengadaan sapi impor menjadi lebih ekonomis, (d) akses
modal melalui perbankan untuk pengembangan peternakan komersial penggemukan
maupun perbibitan skala kecil (10–50 ekor per periode 2–4 bulan) cukup sulit
untuk diperoleh, (e) keterbatasan SDM yang dalam hal ini adalah tenaga kerja
dalam keluarga sebagai pencari pakan hijauan yang membatasi jumlah pemilikan
ternak. Akibatnya peternak sulit sekali untuk meningkatkan jumlah ternak yang
dimiliki sehingga sapi-sapi betina usia produktif terpaksa harus menjadi ternak
konsumsi. Jalan keluarnya adalah memudahkan akses permodalan bagi peternak
untuk pengadaan pakan lengkap yang terjangkau oleh peternak dan penggunaannya
dalam proses produksi memberikan keuntungan yang cukup sehingga peternak
terpacu untuk meningkatkan skala usaha mereka.
3.3.
Peternakan Ruminansia Kecil
Melihat trend konsumsi yang ada maka konsumsi daging
kambing dan domba dalam negeri hanya berlangsung dengan lonjakan sporadis hanya
dibutuhkan dalam waktu-waktu tertentu saja, sedangkan konsumsi harian akan terus
terdesak oleh daging sapi dan daging ayam. Dengan demikian, kalaupun mau ditingkatkan
maka yang harus dikembangkan adalah peternakan skala komersial untuk membidik
pasar impor.
BAB
III
PENUTUP
1.Simpulan
Daging, susu dan telur adalah produk pangan asal
ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi dan mencerdaskan masyarakat dan
untuk memenuhi protein hewani pada manusia. Karakteristik peternakan di
indonesia ada 3 yaitu Peternakan Unggas, Peternakan Ruminansia Besar,
Peternakan Ruminansia Kecil. Kelemahan
peternakan di indonesia adalah Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal
yang merupakan kelemahan pada sistem peternakan di Indonesia, untuk dijadikan
titik awal perubahan struktur peternakan berdasarkan komoditas dengan model
usaha serta kelembagaan yang diharapkan potensial untuk dibentuk. Jadi kita
sebagai penerus bangsa perlu mengembangkan peternakan di Indonesia yang masih
banyak kelemahan, prospek peternakan di masa depan akan sangat menjanjikan
karena manusia selalu membutuhkan protein hewani untuk memenuhi gizinya.
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
Badan
Litbang Pertanian. 2005a. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kambing Domba.
Badan Litbang Pertanian Deptan
Badan
Litbang Pertanian. 2005b. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas. Badan
Litbang Pertanian Deptan.
Badan
Litbang Pertanian. 2005c. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Sapi. Badan Litbang
Pertanian Deptan.
Ditjenak
(Direktorat Jenderal Peternakan). 2006. Statistik Peternakan Tahun 2005. Ditjenak,
Jakarta.
HIPAPI.
2006. Ayam Pelung. Himpunan Peternak Ayam Pelung, Bandung.
Ilham,
N. 2006. Analisa sosial ekonomi dalam rangka pencapaian swasembada daging 2010.
Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan”.
Kementerian
Negara Ristek-RI. 2006. Buku Putih : Penelitian Pengembangan dan Penerapan
IPTEK Bidang Pangan Tahun 2005 – 2025. Kementerian Negara Ristek-RI, Jakarta.
PPSKI
(Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia). 2007. Kesiapan Peternak dan Industri
Peternakan dalam Pelaksanaan PKD (Program Kecukupan Daging) 2010.
Paper
disampaikan dalam Pertemuan ”Sumbangan ISPI pada PKD 2010”, Januari 2007”.
Sekretaris Ditjenak, Jakarta. Unpublished.
Talib,
C. 2006. Langkah strategis untuk pencapaian swasembada daging sapi pada tahun 2010.
Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan daging
2010”, Juli 2006, Bogor. Direktorat Ruminansia, Ditjenak, Jakarta. Unpublished.
Talib.C.
2007. Model Pengembangan Kawasan Agribinis Sapi Potong. Paper dipresentasikan
dalam workshop ”Pembangunan Agribisnis Sapi Potong dalam menunjang PKD (Program
Kecukupan Daging) 2010”.Bogor, Januari 2007. Pusat Penelitian Pengembangan
Peternakan, Bogor.
Tangenjaya,
B. dan A. Djajanegara. 2002. Peternakan Indonesia tahun 2020: Suatu Visi.
Agriculture
and Rural Development Strategy Study, ADB – 3843.
This entry was posted on 09.40
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Posted on
-
0 Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)











0 komentar:
Posting Komentar